Jenderal Hoegeng

Jenderal Hoegeng adalah Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Kelima  yang dikenal sebagai simbol integritas, keteladanan, dan kejujuran. Namun walau dikenal sebagai keteladanan dan kejujuran sebagai seorang polisi, Hoegeng dicopot dari jabatannya sebagai Kapolri setelah 3 tahun mengemban jabatan sejak dilantik pada 5 Mei 1968. Hoegeng dicopot dari jabatannya oleh Presiden Soeharto, bukan karena melakukan pelanggaran, penyalahgunaan wewenang atau bahkan kesalahan fatal lainnya, mirisnya Hoegeng dipaksa pensiun oleh Soeharto kala itu karena berhasil membongkar penyelundupan 3000 mobil mewah yang berhasil masuk ke Indonesia tanpa membayar bea masuk. Dalang dari penyelundupan tersebut adalah seorang pengusaha bernama Roby Tjahjadi. Robby sendiri dikenal sebagai pengusaha yang dekat dengan pengusaha orde baru, Presiden Soeharto.

Setelah dipaksa pensiun, kehidupan Hoegeng sangat memprihatinkan karena harus mengembalikan semua inventaris seperti mobil dan rumah. Kondisi Hoegeng saat itu sangat sulit karena semasa menjabat sebagai pejabat kepolisian ia hanya menerima gaji sebagai polisi dan menolak segala bentuk suap. Saking sulitnya masa itu, bahkan Hoegeng dipinjamkan rumah untuk ditempati bersama keluarganya oleh Kapolri penggantinya Mohamad Hasan.

Hoegeng menjadi pelukis, vokalis, dan mengisi siaran dialog di radio Elshinta untuk memenuhi berbagai kebutuhannya sehari-hari. Kekejaman orde baru kepada Hoegeng ternyata belum juga selesai, Hoegeng dikucilkan oleh pemerintah orde baru karena tergabung dalam Petisi 50 pada Mei 1980 yang memprotes kewenangan Soeharto.

Di akhir hidupnya Hoegeng hanya menjadi seorang pelukis demi membiayai kehidupan keluarganya. 

 

Salah satu kutipan dari Hoegeng yang sangat menginspirasi adalah, “Jabatan itu bukan untuk dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Jabatan itu amanah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.” – Jenderal Hoegeng Iman Santoso.

Jenderal Hoegeng selalu mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati berlandaskan pada kejujuran dan integritas. Bukanlah pencapaian materi yang menjadi ukuran kesuksesan, melainkan dampak positif yang dapat kita berikan kepada masyarakat dan negara. Untuk itu, sebagai generasi penerus, mari kita berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang beliau ajarkan, agar kita bisa menciptakan perubahan yang lebih baik bagi Indonesia.

 


Komentar